Friday, May 09, 2008

Sarbumusi Lulus Verifikasi 2007

Dapat Info, Sarbumusi dinyatakan lulus verifikasi keanggotaan yang dilakukan Depnakertrans pada tahun 2007 dengan jumlah anggota se-Indonesia sekitar 96.000 sehingga Sarbumusi berhak dapat dua kursi di Tripartit Nasional dan Dewan K3 Nasional.

Aku diberikan amanah untuk duduk di Dewan K3 Nasional bersama 9 orang perwakilan serikat buruh lain, 10 orang dari pemerintah dan 10 orang dari Apindo.

Mudah-mudahan Allah tetap menolong dan memudahkanku dalam urusan Sarbumusi yang makin berat ini...

Wednesday, April 02, 2008

"We Love Them More"

Senin 31 Maret 2008, aku sebagai wakil sekjen DPP Sarbumusi bersama Ketua Umum DPP Sarbumusi, Djunaidi Ali dan sejumlah pimpinan nasional serikat buruh/ pekerja diundang untuk bersilaturahmi dengan SBY di Istana.

Banyak hal yang terlontar dalam silaturahmi yang berlangsung mulai pukul 14.30 – 17.00. Tapi hanya ada satu kata-kata SBY yang aku ingat di akhir acara, “Tolong sampaikan salam saya kepada seluruh pekerja Indonesia, we love them more..."

Pesan itu sudah saya sampaikan di sini…..

Wednesday, March 12, 2008

PMII Harus Kembali ke NU & Kampus Umum

Kongres PMII akan digelar di Batam, 17 Maret 2008...
Bagaimanapun hancurnya moral...
dan money politic yang bertebaran di arena Kongres
Sudah seharusnya ada suara hatinurani yang merintih lirih
demi kemajuan NU, umat Islam dan bangsa Indonesia bahkan warga dunia

Inilah suara lirih itu...
1. PMII Harus kembali ke NU secara kultural dan struktural....Kader-kader PMII adalah calon penerus pengurus NU dan banom-banomnya...yang juga mengurusi keseharian umat. Dengan kembalinya PMII ke NU, maka jenjang pengkaderan di NU akan tidak terputus di rantai mahasiswa. Tidak akan ada lagi kader IPNU-IPPNU yang gabung di HMI, KAMMI dll sambil berdalih PMII kan independen (Baca: malu ngaku NU)

2. PMII Harus kembali ke kampus umum. Di era industrialisasi, modernisasi de el el, sudah jelas bahwa IAIN cukup ada di kota-kota besar saja. PMII harus menguasai 3 kampus papan atas, UI, ITB dan UGM. Jujur saja, hanya 3 kampus besar tsb plus sejumlah PTN lain yang mendominasi sektor strategis republik ini. dan yang pasti, jarang lulusan UI, ITB dan UGM yang nganggur (kecuali anaknya emang gak kreatif).

mungkin ini terlalu naif dan bikin sakit hati banyak orang...

tapi yang benar harus dikatakan...

Selamat kongres...btw, untuk KOPRI-nya, saya dukung Ayu, anak Jambi yang jurusan Fisika, lumayan bening sih...hehehe..just kidding..

alfanny
pengurus pmii universitas indonesia, 1995-2001

Monday, February 18, 2008

Bayangkanlah....

Bayangkanlah....
ada adik kelasmu di UI beda 3 tahun.
dia aktivis....santri par excellent...
dulu, untuk sarapan pagi dia harus datang ke kostku.

"fan, minta celengannya ya..."
"ambil aja...", jawabku setengah sadar, karena itu baru setengah 7 pagi.

itu tahun 2003.
kini 5 tahun kemudian, di tahun 2008...
di saat gerakan -yang dulu dia pimpin- membutuhkan sapaannya....

Dia pun membalas ketus lewat sms di nomorku...
"ambil saja duitnya di tebet!".....

so....Tuhan maha pengampun dan penyayang...
moga-moga dengan aku menulis ini, aku tidak usah merasa sakit hati lagi..

amin...

"Aku dan Dirimu" by Bunga Cinta Lestari feat Ari Lasso


tiba saatnya kita saling bicara
tentang perasaan yang kian menyiksa
tentang rindu yang menggebu
tentang cinta yang tak terungkap

sudah terlalu lama kita berdiam
tenggelam dalam gelisah yang tak teredam
memenuhi mimpi-mimpimu malam kita

reff:
duhai cintaku, sayangku, lepaskanlah
perasaanmu, rindumu, seluruh cintamu
dan kini hanya ada aku dan dirimu
sesaat di keabadian

jika sang waktu kita hentikan dan segala mimpi-mimpi jadi kenyataan meleburkan semua batas antara kau dan aku, kita...

the movement is point of no return..

Monday, January 28, 2008

Cukup Bung Karno dan Pak Harto

Pak Harto pun meninggal pada 27 Januari 2008. Seperti Bung Karno, Pak Harto pun meninggal sebelum sempat diadili.

Kejatuhan Pak Harto pun sama seperti Bung Karno dulu. Diwarnai riuh rendah demonstrasi mahasiswa dan naiknya harga-harga.
Hanya Pak Harto sedikit beruntung dibanding Bung Karno. Pak Harto mendapatkan fasilitas pengobatan yang sangat komplet, yang tidak didapatkan Bung Karno.
Yah, sudahlah. Sudah ada tiga presiden yang jatuh tidak alamiah. Bung Karno, Pak Harto dan Gus Dur. Bedanya, Gus Dur sesudah jatuh dari kursi Presiden tetap berkibar dengan kendaraannya, PKB. Bung Karno benar-benar diisolasi dari politik dan rakyat. Pak Harto mencoba bangkit lewat anaknya, Mbak Tutut yang mendirikan PKPB di Pemilu 2004, namun partai tersebut tidak didukung rakyat.
Cukup sudah Bung Karno dan Pak Harto yang jatuh secara tragis. Bangsa ini harus memperbaiki sistem dan mental demokrasinya sehingga pemimpin yang terpilih bisa naik dan turun lewat pintu yang seharusnya.
Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun.....

Thursday, January 24, 2008

Kesaksian Gerakan Mahasiswa UI 1998

Salam sahabat....

Gerakan mahasiswa memperjuangkan reformasi, tahun ini genap 10 tahun....

tapi keadaan ekonomi tak banyak berubah. Para aktivis 1998 pun tercerai-berai. Sebagian di partai politik dan parlemen. Segelintir di LSM. Dan, "silent majority" harus bertahan hidup sebagai buruh dsb sambil mencoba merawat idealisme dan terus berusaha mewariskannya kepada generasi penerus. Dan, i am part of them....
Sebagai warisan kepada generasi penerus, adik-adikku di UI, sengaja lahir situs ini, http://www.kesaksian1998.blogspot.com/....
Sebagai pertanggungjawaban moral dan sejarah, situs ini lahir dan memberi makna pada gerakan 1998, agar adik-adikku di UI terus menjaga republik ini......

Sunday, January 20, 2008

SIKAP AKTIVIS KELUARGA BESAR UI 98 SOAL SOEHARTO

"Menolak Kembalinya ORBA melalui Sakitnya Soeharto"

Pernyataan Sikap Aktivis
Keluarga Besar Universitas
Indonesia 98
(KB-UI 98)


Pemberitaan, eskalasi dan mobilisasi opini yang muncul seputar krisis kesehatan Soeharto telah menjurus ke arah yang membahayakan sendi-sendi demokrasi Indonesia. Kami memandang fakta ini dengan kekhawatiran, oleh karenanya kami menyampaikan
pandangan sebagai berikut:

Pertama, kami menilai bahwa segala upaya itu telah secara sengaja mengarahkan publik untuk menerima, memaafkan secara sukarela dan buta kesalahan-kesalahan Soeharto semasa dia berkuasa. Selain itu, mobilisasi itu juga telah menjungkirbalikan logika dan menyederhanakan persoalan politik Soeharto menjadi semata-mata persoalan dan simpati pribadi dengan melupakan peran utamanya selaku mantan penguasa Orde Baru yang telah memerintah secara otoriter lebih dari tiga dasawarsa.

Kedua, kami menilai bahwa masalah sakitnya Soeharto ini telah dimanfaatkan sedemikian rupa tidak hanya untuk memobilisasi untuk memaafkan Soeharto, lebih dari itu ia juga telah diarahkan untuk mencetak `cek kosong' buat kroni-kroninya yang selama Soeharto berkuasa ikut mengambil manfaat dalam penyalahgunaan kekuasaannya.

Ketiga, yang sangat tidak sehat dari segala proses ini adalah adanya upaya untuk`mencendanakan ' seluruh kehidupan publik. Publik didorong untuk bersikap senada dan seirama sebagaimana mantan para pembantu dan orang sekitar Soeharto.

Dengan dasar pandangan di atas kami menyatakan sikap sebagai berikut:

Pertama, dengan pengalaman 32 tahun Orde Baru memerintah dan fakta sepuluh tahun reformasi ini, kami mengajak setiap orang untuk tidak melupakan dan terus mengingat akibat-akibat kedikatatoran Soeharto dan kroninya terhadap kehancuran kemanusiaan, ketidakadilan dan keterbelakangan rakyat selama masa berkuasanya.

Kedua, dengan mengenang seluruh pengalaman tragedi itu, kami menolak berbagai upaya untuk menyatukan kami dan seluruh rakyat Indonesia dalam satu kesatuan politik dengan Soeharto dan kroni-kroninya. Kami dan sebagian besar rakyat Indonesia tidak pernah merasa berhutang apapun kepada Soeharto dan kroni-kroninya.

Ketiga, pada akhirnya kami mengimbau kepada pemerintahan SBY untuk tetap berpegang pada amanat reformasi, amanat yang menghantarkan dirinya dan seluruh kepolitikan saat ini kepada kursi kekuasaanya sekarang. Kami menuntut pemerintah untuk terus melanjutkan upaya hukum untuk terus mengungkap berbagai penyalahgunaan kekuasaan selama Soeharto dan kroninya berkuasa.

Jakarta, 16 Januari 2008

Pendukung:

Abdul Qodir (FH-UI angkatan 96)
Atnike Nova (FISIP-UI angkatan 94)
Budi Arie Setiadi (FISIP-UI angkatan 90)
Daniel Hutagalung (F.Sastra-UI, angkatan 90)
Ikravany Hilman (FISIP-UI, angkatan 92)
Yostinus Tommy (FISIP-UI angkatan 94)
Bivitri Susanti (FH-UI angkatan 93)
Soekarman Dj. Soemarno (F Sastra UI angkatan 90)
Robertus Robet (FISIP-UI angkatan 91)
Emanuel Rahmat (F. Teknik angkatan 94)
Benediktus Dwi (F . Ekonomi angkatan 94)
Firliana Purwanti (F. Hukum-UI angkatan 96)
Samuel Gultom (FISIP-UI angkatan 93)
Hendrik Boli Tobi (FISIP-UI angkatan 91)
Donny Ardyanto (FISIP-UI angkatan 92)
Sahat K Panggabean (F.Sastra angkatan 95)
Satya Utama (FISIP-UI angkatan 94)
Arsil Usman (FH-UI 96)
Derry Irmantara (FISIP-UI 92)
Agus Mediarta (F.Satra angkatan 94)
Tito Sianipar (FISIP-UI angkatan 97)
FX. Supiarso (FISIP-UI angkatan 93)
Aria Perdana (F. Ekonomi UI angkatan 93)
Taufik Basari (F. Hukum angkatan 95)
Rieke Dyah Pitaloka (F.Sastra angkatan 94)
Nugroho Dewanto (FISIP-UI angkatan 89)
Suma Mihardja (F.Hukum-Ui angkatan 92)
Veronika Iswinahyu (FISIP-UI angkatan 97)
Alfani (F.Sastra angkatan 95)
Umar Idris (F.Sastra angkatan 97)
Iin Purwanti (F.Sastra angkatan 96)
Tony Doludea (F. Sastra angkatan 99)
Sugianto (F.Sastra angkatan 90)

Kontak Person:

Ikravany Hilman (telp 021-93370750)
Abdul Qodir (telp 021-98596212)

Saturday, December 29, 2007

Takdir untuk Benazir

Oleh: Alfanny

Dunia mengutuk pembunuhan Benazir. Tapi ada juga segelintir orang yang "bersyukur" atas terbunuhnya Benazir. Mereka adalah para "bajak laut" yang mengatasnamakan Islam. Itulah kesan yang tertangkap jika anda membaca situs http://www.eramuslim.com/ tanggal 28 Desember 2007, dengan judul "Benazir Bhutto: Sang Ratu Dugem".

Ya, memang benar Benazir semasa kuliah di Oxford dan Harvard adalah "cewek gaul" yang cenderung liberal dan sering menghabiskan waktu malamnya di Diskotek. Tapi, dengan segala "ketidaksempurnaannya" tersebut, Benazir berjasa menyemai nilai-nilai demokrasi di Pakistan.
So, justru karena itulah, mungkin situs era muslim memvonis Benazir pro AS. Itulah simplifikasi tolol dari para "bajak laut" yang menuduh orang-orang yang menganut paham demokrasi sebagai antek AS. Lalu, kalau bukan demokrasi, mau menganut sistem apa? Alternatifnya, ada, yaitu komunis. Tapi, para "bajak laut" tersebut jelas anti komunis karena komunis itu atheis! (Ini kesimpulan tolol juga dari para "bajak laut").
Para "Bajak Laut" yang mengatasnamakan Islam pun mengajukan alternatif selain demokrasi dan komunisme, yaitu ISLAM! Menurut mereka, semua masalah di dunia mulai dari mo-limo sampai global warming, mulai dari pornografi sampai kenaikan BBM bisa diselesaikan dengan Islam.

Ya, ya, ya. Bagi muslim abangan yang "bertemu" Islam di SMA/ Kampus Umum setelah didoktrin seniornya, alternatif "Islam" yang "one stop service" pun amat memikat. Bayangkan, segala sesuatu bisa diselesaikan dengan solusi "Islam" atau "Syariah".
Dan muslim-muslim karbitan inilah yang mengkufurkan segala sistem di luar Islam, seperti demokrasi, komunis, liberalisme, etc. Kalaupun ada kelompok "muslim karbitan" atau "bajak laut" yang masuk sistem demokrasi seperti PKS (Partai Keadilan Sejahtera), percayalah itu hanya kedok. Kalau mereka berkuasa mayoritas lewat Pemilu, secara bertahap mereka akan mendirikan negara Islam atau Khilafah yang mereka igaukan tiap tidur.
Dan, mungkin itulah takdir untuk Benazir. Yang pasti, pembunuhan Benazir akan memberi inspirasi bagi para "bajak laut" di Indonesia. Dalam 10-20 tahun mendatang, tragedi ala Benazir akan terjadi di Indonesia.

Wednesday, December 26, 2007

Robohnya Sekolah Kami

Setiap Tempat adalah Sekolah, Setiap Orang adalah Guru”
(Ki Hajar Dewantara)


Setelah porak poranda oleh hantaman bom atom AS di awal Agustus 1945, Jepang mencoba bangkit dan membangun kembali negerinya. Sang Kaisar pun mengajukan pertanyaan sederhana kepada perdana menteri. Berapa guru yang masih hidup?

Pertanyaan tersebut menjadi langkah awal Jepang bangkit dari kehancurannya dan menjadi raksasa ekonomi dunia yang mampu bersaing dengan Amerika dan Eropa.

Juga bukan suatu kebetulan bila sang komponis “Indonesia Raya”, WR Supratman menuliskan syair “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya”. Supratman tahu persis bahwa “membangun jiwa” adalah “necessary condition” untuk pembangunan sebuah bangsa.

Soekarno pun seia sekata dengan Supratman. Karena itu, Soekarno mencanangkan “Nation and Character Building”. Membangun karakter bangsa, itu yang pertama dan utama. Bayangkan, di masa Demokrasi Terpimpin -yang selalu ditulis dalam sejarah sebagai era kediktatoran Soekarno- sebuah pertandingan volley antar kampung, tim pemenangnya mendapatkan hadiah sebuah buku “Di Bawah Bendera Revolusi”. Sekali lagi, hadiahnya sebuah buku, bukan piala, piagam, uang apalagi voucher belanja di mal.

Pun begitu pula Hatta. Pasca dibubarkannya PNI oleh Sartono atas intimidasi kolonial Belanda, Hatta membentuk kembali PNI dengan akronim baru, Pendidikan Nasional Indonesia yang popular dikenal dengan PNI Pendidikan. Hatta berpendapat sebuah organisasi atau partai yang baik seharusnya lebih mengutamakan kualitas kader bukan sekedar lautan massa yang dimobilisasi setiap Pemilu dan Pilkadal.

Kini, ketika kita membaca koran setiap hari, kita akan melihat hanya tiga hal yang terus menerus menjadi polemik para pakar, birokrat dan masyarakat. Pertama, anggaran pendidikan yang tidak memadai. Dua, para guru yang bergaji rendah dan tidak kompeten. Dan, ketiga Ujian Nasional (UN) yang menjadi momok siswa.

Lantas, pernahkah kita bertanya langsung pada para anak muda, sekumpulan bocah SD, SMP dan SMA tentang keinginan dan kebutuhan mereka akan pendidikan. Tentu saja tidak. Kita sebagai orang tua tentu sudah mempersiapkan masa depan mereka yang seringkali tidak “link and match” dengan need, want dan mungkin taste mereka.

Bila kita berprofesi sebagai lawyer, maka kita akan mengarahkan anak-anak kita masuk fakultas hukum. Bila kita menjadi dokter, maka kita pun mengharapkan anak-anak kita juga mengikuti jejak kita.

Kita selalu mengajarkan pada anak-anak kita tentang cara mencapai kesuksesan. Ya, cara, teknik, metode atau “how to”. Paling jauh kita memberikan informasi kepada mereka tentang “what to”, apa itu profesi dokter. Berapa gaji yang akan kita dapat bila kita menjadi lawyer. Dan seterusnya.

Kita lupa, lalai dan abai memancing anak bertanya, “why to”. Mengapa kamu harus menjadi dokter? Mengapa kamu harus menjadi lawyer? Pernahkah kita memangku anak kita dan menceritakan tentang kisah Mahatma Gandhi, seorang lawyer sukses dan kaya yang memilih –bukan terpaksa- menjadi aktivis politik yang memperjuangkan pembebasan rakyatnya dari kolonialisme Inggris. Dan pernahkah kita menguraikan alas an Gandhi memilih hijrah menjadi aktivis politik yang menghidupi perjuangannya dengan kekayaannya? Ataukah kita sempat menceritakan dengan rinci bagaimana Gandhi harus terusir dari kursi kereta kelas eksekutif ke kelas ekonomi hanya karena Gandhi bukan kulit putih.

Maybe Yes. Or not yet. Ya, anda tidak salah. Kebutuhan biaya (baca: investasi) pendidikan anak kita sedemikian mahalnya. Mulai dari SPP, admission fee, biaya antar jemput, biaya les piano, biaya try out, uang promnite, uang ekskul dan lain-lain. Kita sebagai orang tua harus berjuang nine to five –bahkan lebih- untuk mencukupi biaya pendidikan anak kita, sehingga tidak sempat membacakan kisah-kisah pemimpin, pahlawan, nabi-nabi dan true leader lainnya.

Last but not least, juga sudahkah kita menanamkan nilai-nilai kejujuran, integritas dan harga diri pada anak-anak kita. Mungkin, kita bisa terinspirasi dari cara sebuah pesantren tradisional di pelosok Jawa Timur yang mencoba mendarahdagingkan nilai-nilai kejujuran dengan membuat sebuah “kantin kejujuran”.

Beda dengan kantin konvensional, “kantin kejujuran” tidak dijaga oleh seorang kasir yang bertugas menerima pembayaran dari siswa. “Kantin kejujuran” hanya menyediakan sebuah kotak uang dimana siswa yang mengambil sebuah barang dapat memasukkan uang senilai barang yang diambilnya ke dalam kotak tersebut.

Setiap malam, pengelola kantin tersebut mengecek jumlah uang yang masuk untuk dicocokkan dengan jumlah barang yang terjual. Pada awalnya, terdapat selisih cukup besar antara uang dalam kotak dengan nilai barang yang terjual. Pihak pesantren tidak mengusut, siapa yang tidak jujur, tapi hanya mengumumkan selisih tersebut. Beberapa saat kemudian, selisih tersebut semakin mengecil sebagai tanda telah meningkatnya grafik kejujuran para santri.

Dengan demikian, benarlah quote dari Ki Hajar Dewantara di awal tulisan ini, “Setiap Tempat Adalah Sekolah, Setiap Orang Adalah Guru”. Juga, dengan demikian, judul tulisan ini, “Robohnya Sekolah Kami” menjadi tidak “relevan dan signifikan” –mengutip ucapan populer seorang petinggi negeri ini. Wallahu A’lam.

Sunday, December 23, 2007

Siapakah Diantara Kita Yang Tidak Sesat?

Maraknya aliran sesat dan lebih maraknya lagi berbagai kelompok fasis Islam yang "main hakim sendiri" terhadap aliran sesat ditanggapi secara unik oleh Emha Ainun Najib (Cak Nun). Cak Nun hanya mengajukan pertanyaan retoris, "Siapakah diantara kita yang tidak sesat?".
Kalimat retoris Cak Nun mirip dengan kalimat retoris Yesus (Isa Almasih) yang "membela" seorang pelacur dari amuk massa yang ingin membunuhnya karena dianggap berbuat maksiat dan dosa. Yesus berkata, "Siapa di antara kalian yang tidak berdosa?". Tidak ada satupun orang yang berani menjawab.
Kalau kita nonton film "Passion of Christ", Yesus pun dianggap sesat dan murtad oleh para rabbi Yahudi. Bahkan Nabi Muhammad SAW pun awalnya dianggap sesat oleh kaum Quraisy.
Yang pasti, dalam iklim modern saat ini, seseorang tidak bisa diadili dan dihukum karena mempunyai keyakinan yang berbeda. Bila ada seseorang yang declare bahwa Tuhannya adalah "kucing garong", maka kita tidak bisa menghukumnya. Kita -paling jauh- hanya bisa mengadukannya ke otoritas hukum karena telah "meresahkan masyarakat", dan biarkan otoritas hukum yang memprosesnya. Kalau masyarakat sipil seperti FPI, MUI atau ormas Islam fasis lainnya ingin intervensi jelas tidak bisa menggunakan medium kekerasan. Gunakanlah bahasa dakwah dan dialog kepada kebenaran. Bila si "aliran sesat" tersebut tetap "keukeueh" dengan keyakinannya maka tugas sang pendakwah sudah selesai.
Kini, otoritas hukum justru harus menindak tegas para kelompok Islam fasis seperti FPI atau apapun namanya yang telah berbuat anarkis. Kalau tidak, mungkin bisa terjadi konflik horizontal di negeri ini. Salam.

Friday, December 14, 2007

Nasi Goreng Tanpa Nasi

Nasi goreng tanpa nasi? Tidak mungkin bukan? Namun itulah yang terjadi di Republik ini, ketika sekelompok kaum muda mendeklarasikan “Saatnya Kaum Muda Memimpin” di Gedung Arsip Nasional saat peringatan Sumpah Pemuda 2007 lalu.

Ya, mengutip Indra Jaya Piliang yang menulis “Kaum Muda Tanpa Kaum”, kaum muda yang mendeklarasikan pernyataan “Saatnya Kaum Muda Memimpin” ternyata adalah “kaum muda tanpa kaum”, bagaikan “kepala” tanpa “kaki” dan “tangan” atau seperti Hegel, “ide” tanpa “praktik”.

Kita semua sudah mafhum bahwa mereka yang menamakan dirinya “kaum muda” tersebut sebagian besar adalah aktivis muda yang day to day berprofesi sebagai pengamat politik, dosen, jurnalis dan satu-dua aktivis partai. Yang pasti mereka, tidak punya “kaum”, tidak punya basis massa, konstituen dan umat. Mereka hanya punya media massa yang kebetulan para awak media tersebut adalah bekas teman kuliahnya, teman kost-nya, teman satu organisasi yang bisa dilobi untuk memuat aktivitas “Saatnya Kaum Muda Memimpin” menjadi headline di berbagai media massa. Setelah deklarasi pun, mereka kembali bertapa di balik notebook mereka, mencari ide baru yang “layak tayang” di media massa. Adakah dalam satu minggu sekali mereka berdialog dengan para tukang becak, sopir angkot, petani, nelayan, buruh, pelacur, germo, tukang parkir atau sekedar office boy di kantornya masing-masing? Untuk sekedar mendengar apa sebenarnya kebutuhan rakyat. Apa rakyat butuh “kaum muda sebagai pemimpin” atau hanya butuh beras murah?

Itulah kaum muda kita, bagaikan nasi goreng tanpa nasi. Namun, fenomena nasi goreng tanpa nasi tersebut tidak hanya melanda kaum muda. Berapa banyak hakim tanpa kebijaksanaan, ulama tanpa ilmu, orang kaya tanpa semangat berderma, pengusaha tanpa berusaha, dan lain-lain. Mereka sudah cukup puas terpenjara dengan gelar, pangkat, statu atau titel tanpa memperhatikan makna peranan yang melekat pada status tersebut.

Itulah yang terjadi pada kaum muda yang berteriak “Saatnya Kaum Muda Memimpin”. Apakah yang sudah mereka lakukan untuk memimpin selain menulis artikel di surat kabar, menjadi panelis dalam diskusi dan seminar, atau membuat proposal program untuk mendapat kucuran dana funding asing.

Anda ingin memimpin?

Satu, Anda Harus punya Massa, Konstituen atau Umat. Dua, Anda Harus Punya Visi, mau diapakan dan dikemanakan pengikut anda.Tiga, Anda Harus Punya “Logistik”, minimal untuk ongkos bensin anda untuk “turba” ketemu konstituen. Dan logistik tersebut akan lebih baik bila berasal dari kocek anda pribadi, bukan dari sponsor apalagi patronase. Yang terjadi sekarang, banyak aktivis politik menggalang massa dengan logistik dari sponsor dan patronase, setelah berkuasa dan menentukan anggaran, maka alokasinya tentu lebih diutamakan sponsor dan patronase tersebut.

Lalu, “ice breaking”-nya bagaimana? Ya, turun ke bawah, langsung ke rakyat. Mulailah dari bawah. Jadilah pengecer terlebih dahulu di tingkat lokal. Bila jualan anda laku, maka anda bisa jadi agen yang mengkoordinir sejumlah pengecer. Agen yang sukses tentu akan beranjak menjadi distributor. Dan jangan lama-lama jadi distributor yang memasarkan produk orang lain walaupun produk tersebut anda sukai. Tentukan saat yang tepat, anda membuat produk sendiri yang orisinil, berbeda dan tentu lebih bermanfaat bagi konsumen.

Jika itu kita lakukan. Kita bukanlah lagi “kaum muda tanpa kaum” apalagi “nasi goreng tanpa nasi”. Wallahu A’lam.

Tuesday, November 20, 2007

Kemiskinan Penyebab Radikalisme Agama?

Selama ini banyak kalangan berpendapat bahwa kemiskinan menjadi faktor penyebab munculnya gejala radikalisme beragama yang pada situasi tertentu mewujud dalam aksi-aksi terorisme.

Walaupun pendapat di atas sepintas relevan, namun bila kita mencermati realita sebenarnya kita akan menjumpai fakta yang berbeda. Gembong Al-Qaeda, Osama bin Laden jelas bukanlah berasal dari warga Arab “kasta sudra”. Ia adalah pengusaha besar di Saudi yang di era perang Afganistan-Sovyet tahun 1980-an mensuplai dana bagi mujahidin Afghanistan. Menurut Marc Sageman penulis buku “Understanding Terror Networks” yang meneliti sampel 400 anggota Al-Qaeda, sebagian besar anggota Al-Qaeda berasal dari Arab, komunitas imigran di Eropa dan warga Indonesia di Malaysia. Dalam kaitannya dengan latar belakang sosial-ekonomi, tiga perempat berasal dari keluarga kelas atas dan menengah. Sekitar 60 persen sampel yang diambil pernah kuliah di perguruan tinggi. Realitas menarik lainnya adalah bahwa hampir 70 persen di antara mereka bergabung dalam “gerakan jihad” ketika di perantauan yang terasing dan terputus dari ikatan sosial budaya asli serta jauh dari sanak keluarga. Dari fakta di atas, maka sebagian besar aktivis Al-Qaeda bukanlah berasal dari kaum miskin. Mereka sebagaimana Osama bin Laden adalah kelas menengah yang kecewa terhadap kegagalan rezim sekuler di negaranya masing-masing yang gagal mewujudkan kesejahteraan dan tunduk terhadap kehendak Barat. Sebagai alternatif ideologi sekuler yang telah gagal, mereka mengajukan Islam sebagai ideologi alternatif dengan model revivalisme (kembali kepada kejayaan (Islam) di masa lampau). Yang terjadi kemudian adalah romantisasi, glorifikasi dan juga mistifikasi sejarah (Islam) dimana kaum revivalis muslim mempropagandakan bahwa sejarah Islam dengan sistem khilafahnya adalah sistem terbaik yang mampu menandingi ideologi sekuler beserta turunannya seperti demokrasi, kapitalisme, liberalisme dan sosialisme.

Salah satu kaum revivalis muslim tersebut adalah Hizbut Tahrir (HT) yang menolak 100% sistem demokrasi dan mempropagandakan khilafah sebagai sistem politik yang wajib ditegakkan umat Islam. Dalam situs resminya (www.hizbut-tahrir.or.id), HT menguraikan tentang sistem khilafah sebagai berikut: “Sistem Khilafah merupakan bentuk negara dalam Islam yang menerapkan hukum syariah di bawah pimpinan seorang khalifah. Negara Khilafah merupakan kekuatan politik praktis yang berfungsi untuk menerapkan hukum Islam serta mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Khilafah adalah satu-satunya tharîqah (metode) bagi penerapan syariah Islam secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan. Negara Khilafah ini berdiri atas dasar ideologi Islam yang menjadikan akidah Islam sebagai landasannya”. HT juga menguraikan tentang kekhalifahan terakhir, Utsmani Turki yang dibubarkan oleh Mustafa Kemal tahun 1924 dan berganti menjadi Republik Turki yang berlandaskan sekularisme. Di Indonesia, Hizbut Tahrir (Indonesia) gencar melakukan demonstrasi dan kampanye penegakan syariat Islam (formal) dengan memanfaatkan isu-isu aktual. Basis pendukungnya sebagian besar terkonsentrasi di kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) dan kampus-kampus PTN di berbagai kota besar.

Kelompok muslim revivalis lainnya adalah Ikhwanul Muslimin (Ikhwan). Ikhwan lahir tahun 1928 di Mesir dengan Hasan Al Banna sebagai pendiri dan perumus ideologinya. Ideologi Ikhwan dirumuskan dengan slogan “instant dan siap saji” yaitu: “Allah Ghayatuna, Rasulullah Qudwatuna, Qur’an Dusturuna, Jihad Sabiluna, Syahid Asma’amanina” (Allah tujuan kami, Rasulullah teladan kami, Quran konstitusi kami, Jihad jalan hidup kami, Mati Syahid cita-cita kami)”. Persaingan Ikhwan dengan partai-partai sekuler dan komunis dalam memperebutkan kekuasaan di Mesir telah menyebabkan Ikhwan terprovokasi untuk melakukan tindakan kekerasan yang berpuncak pada gugurnya Hasan Al Banna. Pada era rezim Gamal Abdul Nasser yang berhaluan kiri, Ikhwanul Muslimin dibekukan dan sejumlah tokohnya seperti Sayyid Quthb dihukum gantung. Namun hingga kini, Ikhwan tetap eksis di Mesir dan bahkan memberikan inspirasi bagi gerakan Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah sebuah partai Islam yang sedikit banyak “mengimpor” ideologi Ikhwan. Bermodal 1,8% suara pada Pemilu 1999, PKS berhasil meraih 7% suara pada Pemilu 2004 mengalahkan “seniornya” seperti PAN dan PBB. Di Jakarta, bahkan PKS menempati peringkat pertama perolehan suara. Hal ini tidaklah mengherankan mengingat kader-kader muda PKS adalah para mahasiswa dan alumni Universitas Indonesia (UI) yang memang banyak berdomisili di Jakarta. Kemenangan PKS di Jakarta tersebut menyebabkan PKS cukup “pede” untuk “single fighter” dalam Pilkada Gubernur DKI Jakarta yang akan digelar pertengahan tahun 2007 ini tanpa perlu “dagang sapi” berkoalisi dengan partai lain. Kelas Menengah Kota Cenderung Radikal? Mencermati realitas sosial-ekonomi basis pendukung Hizbut Tahrir dan PKS di Indonesia yang sebagian besar kelas menengah kota, maka secara sederhana dapat disimpulkan bahwa kaum kelas menengah kota cenderung menyetujui paham revivalisme (dan juga radikalisme) agama (Islam).

Lalu, bagaimanakah anatomi kaum kelas menengah kota yang cenderung “taklid” pada paham revivalisme tersebut? Pertama, sebagian besar di antara mereka kuliah di perguruan tinggi negeri favorit seperti UI, IPB, ITB, UGM dan lain-lain yang notabene berasal dari lulusan SMA-SMA negeri unggulan di kotanya masing-masing. Ingat, mereka berasal dari SMA negeri bukan lulusan Madrasah Aliyah atau pesantren tradisional yang umumnya berkultur tradisional (Baca: NU). Pada umumnya, di tingkat SMA inilah, mereka bergabung dengan jamaah HT dan PKS (Sebelum reformasi, jamaah HT dan PKS menamakan dirinya gerakan tarbiyah). Di SMA-SMA negeri, para siswa muslim direkrut menjadi jamaah tarbiyah/ HT/ PKS melalui Rohanis Islam (Rohis) sebagai satu-satunya organisasi pelajar muslim yang boleh beraktivitas di sekolah negeri. Kedua, sudah jelas bahwa para siswa SMA negeri pada umumnya kurang memiliki pemahaman agama yang mendalam seperti rekan-rekannya di Pesantren (yang belajar fiqh, bahasa Arab, nahwu sharaf dan bahkan kitab kuning) sehingga mereka mudah tertarik dengan idelogi revivalisme Islam yang “instant dan siap saji”. Ketiga, juga sangat jelas bahwa para pelajar yang bersekolah di SMA negeri unggulan pada umumnya berlatar belakang sosial ekonomi menengah mengingat SMA negeri unggulan memasang “bandrol” yang cukup mahal untuk SPP-nya. Di Jakarta, untuk masuk SMA unggulan seperti SMA 8, 70, 28, 78 dan lain-lain –selain nilai UN SMP yang tinggi- juga dibutuhkan kesediaan orang tua untuk merogoh kocek lebih dalam hingga di atas 2 juta rupiah sebagai uang pangkal.

Itulah anatomi kaum kelas menengah kota yang cenderung tertarik pada ideologi revivalisme- radikalisme Islam. Anatomi tersebut kompatibel dengan teori Marxis bahwa radikalisme selalu dimotori oleh kelompok yang kondisi ekonominya relatif lebih baik. Jadi, salah satu –dan mungkin satu-satunya- cara untuk mengembalikan gerakan Islam “on the right track” bukan dengan memberantas kemiskinan, tapi dengan dakwah. Sudah saatnya para kyai, ulama dan cendekiawan muslim berdakwah kepada generasi muda kelas menengah kota untuk mendalami ajaran Islam secara komprehensif (kaffah) bukan ideologi revivalisme-radikalisme Islam yang “instant dan siap saji”. Di sisi lain, -mungkin ini agak mustahil- kita berharap pada Barat (AS, Israel dan Eropa) untuk tidak “memprovokasi” umat Islam dengan “perang melawan teroris”-nya. Akan lebih menguntungkan bagi Barat, bila mereka mulai menjalin dialog yang konstruktif dengan Dunia Islam. Pada titik ini, peranan Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia memegang peranan yang signifikan. Sudah saatnya Indonesia mulai memainkan “kartu” diplomasi Islam di kancah internasional. Keberadaan dua organisasi Islam terbesar –yang “asli” Indonesia- yaitu NU dan Muhammadiyah hendaknya juga bersinergi dengan Departemen Luar Negeri untuk mulai mengusung diplomasi Islam ala Indonesia. Wallahu A’lam.

Penulis adalah alumni Ilmu Sejarah UI dan redaksi
www.gusmus.net

KOMENTAR
M. Amin Bunyamin (Amin) menulis:Alhamdulillah, semoga semua kader pewaris para nabi di seluruh negeri juga sudah bisa membaca fenomena ini. Semoga juga mampu merumuskan solusi dan mengamalkannya pada tataran praksis. Persis sekali Kang Alfanny, fenomena "taqlid masyarakat kota". Solusi dari saya "back to basic" kembali ke masjid. Jadilah teladan!
wijiwilopo (wiji) menulis:kalau saya liat gus.....rosulnya......ngajari ketimur...umatnya..acara ke barat, juru dakwahnya seakan akan lenih tahu dari nabinya....terus umat islam 75 % agamanya uda duit...yah klop

rais sonaji (rais) menulis:Ass.wr.wb.Pada dasarnya, berdasarkan data-data yang saudara Alfanny gunakan, saudara ingin menunjukan bahwa persoalan radikalisme Islam bukanlah disebabkan oleh adanya fenomena kemiskinan, dan sebagai konsekwensi logisnya saudara menyarankan agar untuk mengembalikan gerakan Islam agar kembali ke jalur yang benar, maka harus melalui dakwah dan bukan melalui upaya-upaya pemberantasan kemiskinan. Sebagaimana kutipan pendapat saudara di bawah ini :“Jadi, salah satu –dan mungkin satu-satunya- cara untuk mengembalikan gerakan Islam “on the right track” bukan dengan memberantas kemiskinan, tapi dengan dakwah. Sudah saatnya para kyai, ulama dan cendekiawan muslim berdakwah kepada generasi muda kelas menengah kota untuk mendalami ajaran Islam secara komprehensif (kaffah) bukan ideologi revivalisme-radikalisme Islam yang “instant dan siap saji”.Kesimpulan anda tersebut berdasarkan asumsi bahwa dari kalangan menengah perkotaan (yang secara ekonomi relatif mampu), yang cenderung tertarik pada ideologi revivalisme dan radikalisme Islam. Dan selanjutnya saudara contohkan melalui kasus Hizbut Tahrir dan PKS. Sebagaimana tulisan saudara yang saya kutip di bawah ini :“....Mencermati realitas sosial-ekonomi basis pendukung Hizbut Tahrir dan PKS di Indonesia yang sebagian besar kelas menengah kota, maka secara sederhana dapat disimpulkan bahwa kaum kelas menengah kota cenderung menyetujui paham revivalisme (dan juga radikalisme) agama (Islam).....”Perkenankan saya untuk mengkritisi pendapat saudara, pertama, saudara cenderung melakukan “penyederhanaan” dan “membatasi” ruang lingkup kajian tentang kecenderungan radikalisme agama di kalangan menengah di Indonesia hanya dengan mengkaitkannya dengan kasus Hizbut Tahrir dan PKS. Seakan-akan saudara mau menggiring wacana ini ke arah sebuah kesimpulan bahwa gerakan revivalisme & radikalisme itu tercermin dari kedua kelompok tersebut. Saudara katakan bahwa ideologi kelompok tersebut (PKS) adalah ideologi “impor” sementara saudara katakan diujung tulisan bahwa NU dan Muhammadiyah adalah organisasi “asli” Indonesia. Saudara tidak berlaku adil dalam memberikan informasi, jika nilai ideologi ya bandingkan dengan nilai ideologi. Bukan membandingkan “ideologi impor” dengan “organisasi asli”. Sebenarnya kalau kita mau jujur dalam membaca sejarah, nilai-nilai yang dianut NU dan Muhammadiyah juga tidak sepenuhnya “asli” nilai Indonesia. Melainkan juga hasil “percampuran” nilai-nilai lokal dengan nilai-nilai Islam yang memang pada awalnya bersal dari luar (Jazirah Arab). Organisasi Muhammadiyah di masa awal perkembangannya misalnya dengan gerakan TBC -nya (Tahayul, Bid’ah dan Khurafat) menunjukan bahwa berupaya “membersihkan” atau “memurnikan” nilai-nilai Islam yang berkembang di masyarakat pada waktu itu. Mungkin NU-lah yang sejak awal hingga saat ini masih memberi ruang untuk mengakomodir dan mengintegrasikan nilai-nilai dan kebudayaan lokal ke dalam kebudayaan Islam secara keseluruhan. Saya tidak mau berpanjang-panjang dalam masalah ini, namun seyogyanya saudara berlaku arif dan imbang dalam menyajikan informasi, agar tidak menimbulkan suatu dis-harmonisasi di antara sesama umat Islam. Karena menurut hemat saya tulisan saudara kontradiktif, dimana di satu sisi saudara menyarankan agar pihak Barat (AS, Israel dan Eropa) tidak “memprovokasi” umat Islam di Indonesia utk perang melawan teroris, namun disisi lain anda berusaha “memprovokasi” pembaca bahwa Hizbut Tahrir dan PKS sebagai kelompok yang cenderung setuju dengan revivalisme dan radikalisme agam Islam. Dimana sebenarnya posisi saudara ?Kedua, dari tulisan saudara, saudara menyarankan cara untuk mengembalikan gerakan Islam “on the right track” bukan dengan memberantas kemiskinan, tapi dengan dakwah. Sebenarnya mana yang perlu diberi prioritas, generasi muda kelas menengah kota atau kelompok miskin yang menurut data sensus pertanian 75 persen diantaranya ada di pedesaan sebagai petani gurem yang miskin dan rentan terhadap masalah rawan pangan (kelaparan). Radikalisme dan revivalisme ini tidak akan menjadi masalah besar jika hanya ada dalam wacana kelompok menengah perkotaan yang jumlahnya masih sedikit. Radikalisme ini baru bisa menjadi masalah besar jika sudah menyatukan ideologinya dengan jutaan orang miskin dan rawan pangan yang ada di pedesaan. Maka adalah sangat naif jika gerakan Islam hanya dilakukan melalui dakwah. Perlu adanya tindakan yang jauh lebih menyentuh akar persoalan, karena orang miskin jika didakwahi terus kemungkinan hanya menumbuhkan fatalisme, perlu adanya upaya-upaya riil untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Sebenarnya, saudara sendiri sudah setuju bahwa radikalisme ada hubungannya dengan masalah kemiskinan (kesejahteraan) sebagaimana bagian tulisan saudara yang saya kutip di bawah ini :“...Mereka sebagaimana Osama bin Laden adalah kelas menengah yang kecewa terhadap kegagalan rezim sekuler di negaranya masing-masing yang gagal mewujudkan “kesejahteraan” dan tunduk terhadap kehendak Barat..”Saya mohon maaf, bukan bermaksud memojokan saudara, namun saya hanya sekedar saling mengingatkan agar kita lebih arif dan hati-hati dalam membuat sebuah kesimpulan, agar tidak merugikan pihak-pihak yang lemah (orang-orang miskin). Dalam pemikiran saya, organisasi NU dan juga Muhammadiyah memiliki “kekuatan” dan sumberdaya yang besar untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat pedesaan, karena pada umumnya, pengikut kedua organisasi ini adalah masyarakat kecil (terutama petani) yang tersebar di berbagai pelosok pedesaan. Dan seyogyanya dalam mensejahterakan masyarakat pedesaan, tidak hanya cukup dengan di dakwahi saja, melainkan perlu juga dibangun prakarsanya untuk mampu membangun dirinya sendiri agar tidak terus berkubang dalam kemelaratan. Dan nilai-nilai Islam ini selalu memberi nilai-nilai yang bersifat “jalan tengah”, sehingga mampu memberi alternatif dan solusi dari berbagai “pertentangan” yang ada dalam masyarakat. Saya bukan anggota NU, Muhammadiyah, Hizbut Tahrir, atau pun PKS. Saya hanya seorang muslim yang berkeinginan bahwa kita seharusnya mengurangi upaya-upaya untuk berlomba-lomba membesar-besarkan perbedaan, namun seharusnya kita berlomba-lomba untuk berbuat kebajikan. Perihal aqidah, bukan kita yang diberi tanggungjawab untuk mengawasinya, kita hanya diberi tugas untuk menyampaikan kebenaran dan menegakan keadilan. Wallahu’alamWasalam.

alfanny (alfa) menulis:Terima kasih kepada Mas Rais atas komentarnya. Saya ingin beri sedikit klarifikasi atas poin-poin dari Mas rais.1. Dibandingkan dengan HT dan PKS, jelas bahwa NU dan Muhammadiyah lebih "asli" Indonesia. Namun apakah yang "asli" atau "produk lokal" lebih "berkualitas" daripada yang "impor", jelas itu masih bisa didiskusikan.2. Posisi saya adalah pertama, mengkritik Barat yang tidak adil terhadap dunia Islam dan kedua mengkritik HT dan PKS sebagai organisasi revivalis-radikalis yang melakukan romantisasi, glorifikasi dan mistifikasi sejarah Islam. Umat Islam harus dicerdaskan bahwa sejarah Islam sejak masa Rasulullah hingga kini sarat dengan dinamika yang pasang maupun surut.3. Memberantas kemiskinan dan dakwah terhadap kaum revivalis-radikalis adalah dua soal yang berbeda. Prioritas negara (dan kita semua) jelas adalah memberantas kemiskinan terutama kaum buruh tani (peasant) di pedesaan. Sementara dakwah terhadap kaum revivalis-radikalis adalah upaya meminimalisir potensi kekerasan atas nama agama yang bisa timbul karena "provokasi" Barat.4. Sekali lagi, radikalisme (bisa saja) terkait dengan kemiskinan. Tapi, orang miskin belum tentu bersikap radikal. Dan (ternyata) radikalisme juga melanda kelas menengah kota sebagaimana data-data yg saya uraikan.5. Saya tidak bermaksud membesar-besarkan perbedaan di antara umat Islam. Namun, sudah saatnya umat Islam paham tentang perbedaan di antara sesama kelompok Islam. Biarkan umat Islam memilih organisasi/ kelompok Islam mana yang benar-benar berjuang untuk izzul Islam wal muslimin dan caranya juga sesuai dengan ajaran Rasulullah saw.

rais sonaji (rais) menulis:Saudara Alfanny yth.,Alhamdulillah, berarti ini hanyalah masalah kekurangan saya dalam memahami dan menafsirkan tulisan saudara. Karena dengan klarifikasi dari saudara tsb., saya sekarang lebih mudah untuk memahami tujuan dan esensi tulisan saudara. Saya sepakat dengan pemikiran saudara, bahwa adalah sebuah fakta yang tidak dapat kita bantah dan juga sudah merupakan sunatullah bahwa keberagaman itu ada dalam kehidupan ini. Upaya-upaya untuk menjadikan umat ini satu dan seragam adalah upaya-upaya yang utopis dan pasti akan menemui kegagalan. Bahkan Rasulullah SAW pun pernah ditegur-Nya tentang permasalahan ini. Memang menurut hemat saya, biarkan keberagaman itu tetap ada. Karena keberagaman lahir dari fakta bahwa setiap individu ini terlahir unik. Kita tidak mungkin menjadikan umat ini satu dan seragam (linier), yang mungkin adalah mencari anasir-anasir persamaan dari keberagaman atau mencari benang merah persamaan dari keberagaman itu. Benang merahnya sebenarnya yaitu kebenaran dan keadilan. Namun ini pun menjadi masalah karena keterbatasan kemampuan manusia utk menjangkau kebenaran mutlak secara utuh. Sehingga pada tataran realitas, meskipun kebenaran mutlak itu hanya satu, namun pada faktanya kebenaran yang difahami manusia adalah kebenaran yang beragam dan berlapis. Ibarat kita mengelupas kulit bawang, maka demikian pula dengan kebenaran yg difahami manusia pada kenyatannya berlapis-lapis.Jadi kesimpulannya, biarkan kebenaran itu difahami secara beragam, namun tetap tanpa mengurangi upaya kita utk mencari, menemukan serta menyatakan kebenaran yang sesungguhnya. Karena akan selalu ada harapan dan peluang ditemukannya benang merah yg membawa kepada kebenaran yg relatif dekat dengan kebenaran mutlak. Maka kewajiban kita bukanlah berlomba-lomba berbuat kebajikan untuk menyatukan keragaman menjadi satu kebenaran, melainkan sebaliknya, melalui keberagaman kita berlomba-lomba berbuat berbuat kebenaran dan kebajikan, biarkan nanti Allah SWT dan Rasul-Nya yang akan menilainya.Terimakasih atas penjelasannya.wasalam.

Miftah (Takul) menulis:Lek Alfany, maaf sebelumnya. Jika saya perhatikan, baik dari tulisan maupun obrolan-obrolan santai, pandangan-pandangan anda terlalu hiperbolis dalam satu issu saja; “gerakan revivalis di Indonesia”. Padahal, jika kita mau menelisik lebih jauh lagi, ada persoalan-persoalan yang agaknya anda “skip” (loncati) mengenai fenomena keberagamaan yang terjadi di Indonesia. Di sini saya hendak mengomentari agak panjang tentang tulisan ini khususnya, dan umumnya tentang pandangan-pandangan anda yang saya ketahui.Saya katakan di sini, secara garis besar tulisan anda ini ‘menyibak’ tentang tindakan intolerant yang dilakukan oleh kelompok Islamis di Indonesia. Tapi anda juga harus tahu bahwa beberapa praktek intolerant di Indonesia yang mencuat akhir dekade ini merupakan fenomena fundamentalisme atau konservatisme Islam, yang oleh beberapa ahli sering dikaitkan sebagai bentuk respon atas sisi “gelap” globalisasi, seperti kebobrokan moral dan melonjaknya kemiskinan, tidak bisa dipungkiri menjadi faktor paling dominan yang menyebabkan perpecahan bangsa. Fundamentalisme atau konservatisme Islam, menciptakan sekaligus menggerakkan sekelompok masyarakat, yang berdalih menyelamatkan moralitas dan keyakinan agama tertentu serta bermimpi sangat mulia mengentaskan seluruh problem turunan dari krisis ekonomi yang melanda negeri ini, dengan kecenderungan mengabaikan kemajemukan bangsa.Bahasa lain yang dikemukakan oleh para pengusung Islam Liberal bahwa fundamentalisme Islam sebenarnya adalah gerakan yang mencoba melakukan pembaharuan Islam rendah menjadi Islam tinggi, meskipun dalam kenyataannya tradisi yang direvitalisasi oleh mereka tersebut hanyalah varian dari Islam rendah juga. Islam rendah dan Islam tinggi yang dimaksud di sini merupakan istilah yang diambil dari Ernest Gellner yang menyatakan tradisi tinggi (great tradition atau high tradition) adalah Islam ‘resmi’ atau Islam yang dianggap lebih dekat kepada kitab suci dan umumnya tumbuh di perkotaan. Sementara tradisi rendah merupakan perwujudan dari budaya-budaya lokal.Dalam praktiknya di Indonesia, semangat purifikasi dan fundamentalisme keagamaan semacam ini muncul tidak saja berbentuk pergulatan ide dan gagasan, tetapi telah berwujud gerakan. Munculnya orma-ormas Islam baru lengkap dengan gerakan massanya seperti jaringan Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir Indonesia, Majlis Mujahidin Indonesia, Front Pembela Islam, Laskar Jihad dan sebagainya menjadi tanda bahwa tantangan itu telah benar-benar bermain pada level praksis.Mereka telah menghadirkan alternatif nyata warna keberagamaan yang lain di Indonesia, keberagamaan yang mereka sebut ‘otentik”, Islam dan kaffah yang mestinya diberlakukan di seluruh dunia. Karena alasan mereka ini, mereka memaksakan suatu nilai dan norma tertentu yang diyakini paling sahih dengan menafikan realitas masyarakat, yang bertabur dan berserak beragam nilai dan norma dari seluruh elemen negeri ini, baik agama dan kepercayaan, budaya sosial atau pun politik. Dengan berbagai cara, meskipun dengan menggunakan kekerasan (seperti pembakaran gereja, pengusiran jamaah Ahmadiyah, menekan dan mempengaruhi aparat negara menangkap Lia Aminuddin pimpinan jamaah Salamullah, kasus Ustad Roy, dan sebagainya), mereka menuntut kepada siapa saja untuk mengikuti dan mematuhi nilai dan norma yang mereka imani. Lebih jauh lagi, mereka juga menuntut nilai-nilai yang mereka yakini sebagai satu-satunya yang paling benar untuk dijadikan aturan resmi dan legal. Cara beragama seperti ini diyakini dapat menimbulkan konflik antar agama, seperti terjadi di Ambon dan Maluku yang melibatkan perang saudara antara suku Bugis yang beragama Islam dan suku Ambon yang beragama Kristen dan berlanjut di Poso antara pemeluk Islam dan Kristen dengan korban yang besar dan kualitas kekerasan yang mengerikan. Sebab, mereka yang memahami agama dengan sangat eksklusif ini tidak mau menerima kebenaran di luar dari yang diyakininya.Dengan demikian, seharusnya ada penjelasan yang komprehensif prihal tema tuliasan anda ini: “penyebab radikalisme agama”. Bahwa ternyata gerakan revivalis seperti PKS, HT dan kelompok radikal lainnya di Indonesia merupakan gerakan kaum fundamentalis yang pada hakikatnya dipengaruhi oleh banyak faktor sekaligus konsekuensi yang ditimbulkan dari gerakan mereka tersebut. Selain itu, gerakan internalisasi ajaran-ajaran di hampir semua sektor dengan model indoktrinasi, terutama sektor pendidikan, pada akhirnya berpotensi konflik agama, baik inter-agama maupun intra-agama. Demikian yang barangkali perlu saya tambahkan. Terima kasih.

ega marjuki (ega) menulis:Kemiskinan merupakan suatu bentuk radikal dari agama karena agama tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi miskin. Orang yang kekurangan dalam hal harta tetapi masih kaya sabar maka radikal tersebut masih dapat diminimalisasi. Ketika seseorang mempunyai harta yang berlebih dan kaya akan rasa syukur maka radikal tersebut juga dapat diminimalisasi. Yang Jelas Tidak ada ajaran radikal agama. Hanya manusia yang melebih-lebihkan hingga menyebabkan gaya hidup berfoya-foya dalam praktik beragama.Kenapa pertanyaan itu dalam judul tulisan ini muncul? Apakah karena kemiskinan juga?Semoga kita tetap tenang dan berfikir dengan kepala dingin. Untuk apa menjelaskan golongan yang kita tidak sepakat atau kita menolaknya. Dengan begitu secara tidak langsung kita terjebak dalam program mempromosikan golongan atau partai tertentu.Masih banyak yang belum kita ketahui, apalagi kita pahami tentang ajaran yang kita yakini kebenarannya. Kekayaan ilmu dan khasanah ajaran yang kita yakini dan kita anut begitu luas dan dalam, sudah merasa cukupkah kita mencintai ajaran tersebut hingga kita sudah berani belajar memcaci maki bahkan membenci partai atau golongan lain, yang memang sengaja Allah ciptakan agar kita mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang radikal mana yang humanis.Adakah kesia-siaan dalam ciptaan Allah. Sungguh kita perlu banyak membaca dan memahami akan ayat-Nya dengan benar sehingga kemiskinan ilmu menjadi energi besar bagi kita untuk selalu mau menuntut ilmu.Mempromosikan partai atau golongan yang kita yakin itu tidak benar, menjelaskan sesuatu yang salah, semua memang bermanfaat, tetapi masih banyak yang perlu kita gali dan kita kaji tentang ajaran yang kita yakini kebenarannya. Bagi saudaraku sekalian tolong nasehat dan bagilah ilmu pada manusia bodoh ini [e mail :e94@plasa.com]. Maaf apabila ada salah tulis atau salah kata. Titip salam untuk saudaraku semua.

Pamungkas, Didik (santri anom) menulis:anno bner kata gus dur...beliau sangat menghargai perbedaan...yang jelas menurut saya ikhwanul muslimin. HT itu sudah meresahkan...mereka tidak mau menghargai perbedaan, menganggap diri mereka yg paling benar...menyalahkan muslim yang tidak satu haluan dengan mereka..bahkan tidak segan mengkafirkannya

Wednesday, September 12, 2007

Hari-Hari Ketidaksetiaan



Hari-hari ini kita dipertontonkan oleh “teladan” ketidaksetiaan dari para public figure kita. Ada anggota DPR yang merekam “adegan” ketidaksetiaannya di ponsel. Juga ada dai kondang yang mengemas ketidaksetiaannya dalam bahasa relijius.

Yang pasti korban ketidaksetiaan itu adalah kaum perempuan! Kaum perempuan dalam atmosfer patriarki memang menjadi kaum lemah yang dipinggirkan oleh para rezim, terutama rezim fasis relijius. Masih segar dalam ingatan kita ketika rezim fasis relijius tersebut menolak presiden perempuan dalam event Pemilu 1999. Semasa masih menjadi mahasiswa UI, penulis pernah dipanel dalam sebuah diskusi di Masjid UI membahas presiden perempuan. Pada momen tersebut, terlihat sekelompok mahasiswa beraliran fasis relijius menolak mentah-mentah presiden perempuan. Penulis pun hanya mengajukan argumen sederhana ; Bahwa kita semua lahir ke dunia tidak pernah tahu apakah lahir sebagai laki-laki atau perempuan?

Masih terngiang cerita kyai dan alim ulama di kampung-kampung tentang kaum jahiliyah Arab yang mengubur anak perempuannya hidup-hidup! Tentang perempuan-perempuan yang tidak berhak mendapatkan warisan bahkan menjadi barang warisan. Islam-lah yang kemudian mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan. Tidak ada lagi anak perempuan dikubur hidup-hidup. Tidak dijumpai lagi perempuan yang menjadi barang warisan. Mungkinkah bangsa kita ingin meniru perilaku Arab jahiliyah. Selalu menyakiti kaum perempuan yang justru adalah ibu kita sendiri, yang melahirkan kita!

Berani sumpah! Setiap kaum perempuan akan sangat sakit hati bila menyaksikan ketidaksetiaan dari pasangannya. Toh, kaum laki-laki juga akan marah bila melihat istrinya selingkuh dengan pria idaman lain. Sama saja bukan? Mungkinkah bangsa kita memang bangsa yang tidak setia?

Dulu, di masa Revolusi Kemerdekaan, setiap pejuang republiken pasti akan menghukum mati para pengkhianat yang membocorkan rahasia perjuangan kepada Belanda. Bahkan PM Sutan Syahrir sempat diculik oleh para pejuang yang meragukan kesetiaan Syahrir hanya karena Syahrir bersedia berkompromi dalam perundingan dengan Belanda. Para pejuang republikan saat itu memang hanya mengenal warna hitam putih. Setia kepada Republik, merdeka 100% atau menjadi antek Belanda.

Banyak juga kaum pribumi yang tidak setia pada republik. Mereka pun terbujuk oleh Van Mook untuk selingkuh dengan Belanda dan keluar dari republik. Negara-negara boneka pun terbentuk. Ada Pasundan, NIT dan lain-lain.

Ke belakang lagi, di masa pergerakan nasional, pimpinan Sarekat Islam menguji kesetiaan anggotanya dengan menerapkan disiplin partai. Anggota SI yang masih rangkap keanggotaan dengan partai lain, terutama ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging) diharuskan memilih salah satu, SI atau ISDV. Sejarah membuktikan bahwa para anggota SI “Merah” memilih keluar dari SI dan membentuk Sarekat Rakyat, cikal bakal PKI.

Jadi, semuanya tergantung pada kita semua. Mau setia atau tidak setia? Hanya ada dua pilihan itu. Namun, rupanya kini kelompok fasis relijius lebih cerdik bagaikan sang kancil. Ketidaksetiaan dikemas dalam bahasa relijius. Dan kembali, agama –versi kelompok fasis rejius- harus bertentangan dengan hati nurani. Entah sampai kapan. Wallahu a’lam.

Friday, February 24, 2006

PKS Mendominasi di Pondokcina

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendominasi hasil pemilihan umum di Kelurahan Pondok Cina dan Kemiri Muka, di Jalan Margonda, Kodya Depok.

Koordinator Jaringan Pendidikan Pemelihan Untuk Rakyat (JPPR), Beji Depok, Alfanny di Depok, Senin (5/4), mengatakan, PKS setidaknya menang sekitar 50 persen di dua kelurah tersebut. Di Kelurahan Kemiri Muka yang menerima rata-rata 200 orang pemilih per-TPS (tempat pemungutan suara), seperti di TPS 78,76, 74, 80, 55, 54, 51, PKS memenangkan 20-25 persen suara.
Sedangkan di Kelurahan Pondok Cina, PKS unggul dari partai lainnya seperti di TPS 16, 18, 19, 20, dan 24 yang juga menampung rata-rata 200 pemilih per-TPS. Di semua TPS itu PKS menang disusul secara bergantian oleh partai lainnya seperti PBR, Partai Golkar dan PAN, PKB. "Yang menarik dari pemilu kali ini PDI-P, partai yang memerintah saat ini, tidak masuk dalam tiga besar," kata Alfanny.(Ant/nik)

Kaum Muda Islam, Mendayung diantara dua karang

Bila founding father kita, Bung Hatta pernah mengibaratkan bahwa Pancasila bagaikan mendayung di antara dua karang, sosialisme dan liberalisme, perumpamaan tersebut menemukan relevansinya pada kehidupan kaum muda Islam tanah air yang juga kini harus mendayung di antara dua karang, liberalisme dan revivalisme.
Karang pertama liberalisme kini tengah digandrungi sejumlah kaum muda Islam yang mengklaim dirinya sebagai pengusung Islam liberal-progresif-transformatif yang menawarkan agenda pencerahan terhadap pola pikir konservatif umat Islam yang literal dan dogmatis. Karang kedua revivalisme tidak kalah banyak pengikutnya. Di sejumlah kampus center of excellent, mereka menanamkan pengaruh dan dominasinya. Berbekal paket doktrin keagamaan yang diimpor dari Timur Tengah, mereka dengan percaya diri menyebarkan dakwah “Islam kaffah” ke masyarakat melalui berbagai jalur, baik politik, kultural, sosial-ekonomi dan bahkan –kadang-kadang- kekerasan!
Anatomi Karang Liberalisme
Karang liberalisme dihuni oleh sejumlah anak muda berlatar belakang pendidikan keagamaan tradisional yang menamatkan pendidikan tingginya di IAIN. Aktivitas mereka seperti seminar, diskusi, pelatihan, advokasi, community development dan meramaikan wacana sosial keagamaan di media massa –diakui atau tidak- didukung pendanaannya oleh sejumlah funding asing dari Barat yang mempunyai agenda liberalisasi ekonomi dan politik negara-negara berkembang. Berbagai istilah dari Barat yang terdengar asing bagi si Ujang, pemuda desa di pelosok Jawa Barat, dengan gagah mereka sosialisasikan. Jadilah si Ujang harus mengernyitkan kening untuk sekedar memahami makna semantik istilah-istilah seperti civil society, emansipatoris, islam liberal versus islam literal, multiculturalism, gender, human rights dan sebagainya.
Tanpa disadari, kaum muda Islam yang berpijak di atas karang liberalisme menjadi corong dan backing vocal terbaik bagi aspirasi dan agenda dunia Barat yang –menurut Soekarno- tengah mencoba menjajah kembali Asia-Afrika, neo-kolonialisme dan imperialisme. Barat yang terpaksa mendekolonisasi Asia-Afrika pasca Perang Dunia II kini mencoba menjajah kembali Asia-Afrika, bukan lagi dengan senjata dan mesiu tapi dengan wacana “Pasar Bebas” dan “Liberalisme”.
Barat ingin menjadikan Asia-Afrika sebagai daerah pemasaran hasil industrinya yang over supply. Perusahaan Rokok Philip Morris yang kehilangan pasarnya di Eropa dan Amerika akibat pengetatan larangan merokok di tempat umum, mengalihkan investasinya ke Indonesia, dimana masih banyak bapak-bapak yang rela menghabiskan uangnya untuk merokok daripada membelikan susu untuk anaknya!
Untuk itu, pasar Asia-Afrika harus diliberalisasi. Masuklah IMF dengan SAP-nya (Structural Adjustment Program) yang memaksa negara-negara berkembang membuka pasarnya bagi produk-produk Barat sekaligus mendesak Asia-Afrika menghapuskan subsidi sosial bagi kaum miskin dengan argumen efisiensi anggaran dan menghilangkan distorsi pasar.
Liberalisme, itu kata kuncinya. Semua sektor harus diliberalisasi. Politik diliberalisasi dengan eksploitasi wacana demokrasi sehingga demokrasi tinggal prosedur-prosedur formal, dimana tangan-tangan otoritarian, sektarian dan korup kembali tampil di panggung melalui pintu demokrasi!
Kebudayaan diliberalisasi (Baca: Westernisasi) sehingga aspirasi dan tradisi lokal tidak mendapatkan apresiasi dan mengalami proses marjinalisasi. Kebudayaan hedonis dan “Sastra Lendir” –meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer- mendominasi media publik dan meracuni pola pikir generasi muda.
Mungkin kaum muda Islam yang menapakkan kakinya di karang liberalisme bermasud baik, hanya sekedar mengkritisi doktrin dan penafsiran keagamaan yang sudah tidak relevan dengan semangat esensial Islam. Namun, tanpa disadari karang liberalisme dimana mereka berpijak merupakan karang yang tumbuh di atas pantai neo-imperialisme.
Anatomi Karang Revivalisme
Mereka yang berpijak di karang revivalisme sekarang memasuki babak baru ketika jalur politik yang mereka tekuni mulai membuahkan hasil. Melalui pintu demokrasi, kaum muda Islam revivalis –bersama-sama para koruptor dan diktator- meraih kursi-kursi kekuasaan. Target utama kaum muda Islam revivalis sederhana, mengembalikan kejayaan Islam seperti pada masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin hingga kejatuhan Turki Utsmani, dimana “syariat Islam” dan “negara Islam” ditegakkan secara kaffah.
Seakan mengalami amnesia, kaum muda Islam revivalis lupa bahwa sejarah Islam tidaklah gilang-gemilang seperti yang mereka igaukan. Pertumpahan darah, kilatan pedang dan perpecahan kental mewarnai sejarah Islam, terutama sepeninggal Rasulullah. Kini, semangat keberagamaan mereka disusupi oleh semangat resistensi terhadap Barat yang diskriminatif dan eksploitatif.
Alih-alih menyebarkan Islam yang rahmatan lil alamiin, citra Islam kini tercoreng oleh serangkaian aksi-aksi intoleransi terhadap kaum minoritas. Non-muslim tidak bisa lagi beribadah dengan tenang seperti di masa Rasulullah, kini kaum non muslim harus menggenapkan dirinya menjadi puluhan jamaah bila ingin mendirikan rumah ibadah. Sekelompok masyarakat –yang sudah mengaku dirinya muslim- juga harus menelan pil pahit ketika masjidnya dihancurkan oleh saudaranya sesama muslim, persis seperti Muawiyah membantai habis cucu Rasulullah, Hasan dan Husein.
Mungkin kaum muda Islam revivalis bermaksud baik. Barat yang diskriminatif dan eksploitatif harus dilawan! Tapi agaknya mereka melupakan ajaran “amar ma’ruf nahi munkar” versi Rasulullah. Kini “amar ma’ruf nahi munkar” dilakukan dengan cara-cara yang munkar!
Harus ada “The Third Way”, Mungkin Anda Orangnya?
Sebagaimana Anthony Giddens yang merintis “The Third Way” sebagai alternatif karang sosialisme dan liberalisme, maka kaum muda Islam Indonesia harus mulai mendesain “The Third Way” sebagai alternatif karang liberalisme dan revivalisme. Sudah cukuplah kebingungan si Ujang, pemuda desa Tasikmalaya lulusan SMP yang kebingungan menyaksikan teman-temannya yang kuliah di kota bertengkar (Baca: Berwacana!) dengan penggalan ayat-ayat Tuhan dan istilah-istilah asing. Si Ujang tidak butuh wacana, ia hanya butuh lapangan kerja yang makin langka di republik ini. Mungkinkah anda orangnya, sang perintis “The Third Way”. Walahu a’lam.
Penulis adalah lulusan Ilmu Sejarah UI dan alumni PMII. Kini mengasuh website http://www.gusmus.net/

Sarbumusi Desak Megawati Urus Buruh Migran

99 TKW di Penjara Kuwait, Sarbumusi Desak Pemerintah Cekatan
Jakarta, NU Online
Angka 99 bagi warga nahdliyin adalah angka mistis dan mengandung nuansa religi. Namun angka 99 bagi Sarikat Buruh Muslimin (Sarbumusi) NU adalah angka yang mengerikan. Bagaimana tidak, pada saat para pemimpin negeri ini sibuk mengurus dirinya sendiri, 99 tenaga kerja wanita Indonesia mendekam di penjara negeri Kuwait dalam keadaan mengenaskan.
Seperti dilaporkan, dalam kunjungannya ke rumah tahanan TKW milik departemen Imigrasi di distrik Sulaiba Kuwait, Menakertrans Jacob Nuwawea disambut deru tangis TKW. Diantara mereka terdapat sekitar 10 TKW menggendong anak bayi dari hasil hubungan gelap dengan penduduk setempat atau sesama pekerja asing di Kuwait.
Tragisnya, mereka tidak pernah mengetahui nasib mereka sendiri selama berbulan-bulan dalam tahanan dengan kondisi sangat mengenaskan. Mereka tidak diberi makanan yang layak, tidak ada sabun, pasta gigi dan keperluan dasar lainnya.
Pihak Sarbumusi menyatakan kecewa dengan perwakilan Indonesia di negeri para Ameer tersebut. "Kedatangan Pak Menteri Jacob ke lokasi penahanan mungkin menghibur, akan tetapi apakah urusan mereka dapat diatasi?"tanya Wakil Sekjen Sarbumusi Alfanny, SS kepada NU Online, Rabu.
Bagi mantan aktivis PMII Universitas Indonesia tersebut, para buruh migran Indonesia tidak selayaknya dikirim ke luar negeri tanpa dilengkapi perlindungan hukum dan jaminan lain seperti asuransi jiwa dan kesehatan. "Kita tidak sedang ekspor barang komoditi, mereka adalah manusia yang harus diperlakukan secara manusiawi. Seharusnya ada kesepakatan tingkat negara dengan negara, G to G agar buruh migran kita terjamin dan merasa nyaman selama bekerja,"lanjutnya.
Yang terjadi, jelas Alfanny, pemerintah banyak tidak mau tahu dan perwakilan pemerintah di negara bersangkutan kurang memperhatikan hal yang demikian. Hal yang sama juga terjadi di Arab Saudi dan Malaysia. "Oleh karena itu, sebagai Sarbumusi meminta betul kepada menteri tekait untuk membicarakan masalah ini secara lintas sektoral dan secara tuntas. Ini untuk menghindari penyelesaian Ad Hoc yang sampai sekarang masih digemari pejabat. 99 TKW itu harus cepat diselamatkan. Tindakan pemerinah harus kongkrit,"ujar Alfanny lagi. (MA)

Sarbumusi Desak Megawati Urus Buruh Migran

Sarbumusi Desak Megawati Urus Buruh Migran

Jakarta, NU Online
Sarikat Buruh Muslim Indonesia (Sarbumusi) meminta pemerintahan Megawati tidak sibuk mengurus PDIP saja, namun juga memperhatikan nasib buruh migran Indonesia di Singapura yang nyawanya sudah di ujung tanduk.
“Ini pemerintahan yang naif. Mengaku mengurus rakyat kecil, akan tetapi lima orang anak bangsa akan dihukum mati di Singapura, tidak ada yang membela. Megawati sendiri selalu tidak tertarik dengan hal demikian, padahal kasus ini membutuhkan diplomasi tingkat tinggi,"ujar Wakil Sekretaris Jenderal Sarbumusi Alfanny, SS kepada NU Online, Jumat (12/3).
Seperti diberitakan, Sundarti Suprianto, Purwanti Panji, Juminem, Siti Aminah dan Sumiyati, saat ini dalam kecemasan dan kesedihan mendalam, karena menghadapi ancaman hukuman mati. Mereka adalah buruh migran perempuan Indonesia yang bekerja di Singapura dan dituduh membunuh majikanya.
Menurut Alfanny, para buruh tersebut tidak sepenuhnya disalahkan. Mereka berhak mendapatkan perlindungan dan pembelaan dari warga bangsanya. "Sebab, perlakuan buruk majikan juga menyebabkan konflik buruh migran dan majikan tidak dapat dihindari. Saya kira, tuduhan pembunuhan terhadap majikan yang dilakukan oleh buruh migran banyak disebabkan karena buruh migran merasa diperlakukan semena-mena, "jelas aktivis organisasi buruh di bawah PBNU tersebut. Dalam 2 tahun terakhir ini, paling tidak 5 buruh migran Indonesia harus menghadapi ancaman hukuman mati karena dituduh membunuh majikannya.
Sementara, Federasi Organisasi Buruh Migran (FOBMI) dan Perhimpunan Indonesia untuk Buruh Migran Berdaulat (Migrant Care) dalam keterangan persnya menyatakan bahwa pekerja rumah tangga (domestic workers) di luar negeri harus menghadapi kondisi kerja yang buruk 3 D: Dirty, Dangerous, Dark).
Perlakuan buruk majikan terhadap pekerja rumah tangga bisa dalam bentuk tindak kekerasan, pelecehan seksual, perkosaan dan tidak diberi upah. Suasana buruk lain yang dialami adalah mereka bekerja tanpa alat pengaman. Kondisi rentan tersebut terjadi Singapura. Sampai saat ini (sejak tahun 1999-2004) angka kematian kecelakaan kerja sudah mencapai 98 orang. Kematian ini disebabkan karena mereka terjatuh dari ketinggian.
Sarbumusi mendesak pemerintah untuk segera melakukan pembicaraan dengan pemerintah Singapura, sebab hukuman pidana dapat dipertimbangkan demi alasan kemanusiaan dan yang lebih penting, perlu investigasi lebih lanjut untuk mencari kebenarannya. (MA)

Wednesday, February 08, 2006

Gus Mus soal Karikatur Nabi : "Umat Islam Tidak Boleh Marah Demi Marah"

Pemuatan karikatur Nabi Muhammad SAW yang bernada pelecehan terhadap Islam di koran Denmark, Jyllands-Posten dan surat kabar Eropa lainnya mendapatkan reaksi keras dari umat Islam sedunia. Di Syiria, Kedutaan Denmark bahkan dibakar oleh ribuan massa. Menanggapi hal tersebut KH Mustofa Bisri menyatakan bahwa umat Islam memang seharusnya marah, namun dia menambahkan bahwa umat Islam "tidak boleh marah demi marah".

Dihubungi via telepon oleh reporter www.gusmus.net, Gus Mus yang masih berada di Tanah Suci menyatakan bahwa karikatur tersebut memang telah melewati batas dan umat Islam memang seharusnya marah dan mengecam pemuatan karikatur yang melecehkan Nabi tersebut. Seperti diketahui, tidak hanya koran Denmark, Jyllands-Posten yang memuat karikatur tersebut, namun sejumlah koran Eropa juga memuatnya.Namun di sisi lain, Gus Mus berpendapat bahwa umat Islam tetap harus berlaku adil dalam melampiaskan kemarahannya. Umat Islam tidak boleh menghakimi orang yang tidak bersalah. "Tidak semua orang Denmark tolol seperti pembuat karikatur itu, bukan", ujar Gus Mus. Gus Mus kemudian menyitir ayat Al Qur'an yang berbunyi, "...Janganlah Kebencianmu terhadap suatu kaum menyebabkan kamu berlaku tidak adil..". (Alf/Alx)

Tuesday, February 07, 2006

Bila Buah jatuh Jauh dari Pohonnya

“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Itulah pepatah yang menggambarkan karakter seorang anak yang berperilaku (hampir) sama seperti orang tuanya. “Like father, like son”, begitulah padanan pepatah tersebut dalam khazanah sastra Barat. Memang sangatlah wajar bila seorang anak berperilaku seperti orang tuanya. Orang tua memang berperan besar dalam membentuk karakter dan kecenderungan pribadi seorang anak. Dalam sebuah hadits bahkan ditegaskan bahwa, “setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, namun orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai yahudi, nasrani ataupun majusi”

Dalam konteks politik Indonesia, banyak tokoh politik saat ini yang merupakan keturunan para tokoh pergerakan nasional dan perintis kemerdekaan. Sekedar menyebut nama, misalnya Megawati Soekarnoputri yang berhasil meraih tahta kepresidenan, seakan meniru ayahnya, Soekarno, presiden pertama republik ini. Walaupun banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa Megawati bukanlah “anak ideologis” Soekarno, namun sedikit banyak langkah politiknya banyak diinspirasikan sang ayah.
Namun, kini kita melihat banyak kaum muda mencoba membangun identitasnya sendiri yang sangat berbeda dengan karakter orang tuanya. Sudah banyak contoh dalam kehidupan di masyarakat karakter seorang anak berbeda jauh dengan orang tuanya. Dalam ranah kehidupan keberagamaan, misalnya, kita menjumpai lahirnya sebuah generasi muda muslim baru yang tidak pernah kita jumpai akar sejarahnya di masa lampau. Generasi muda muslim baru tersebut tidak pernah menjadikan pemikiran tokoh-tokoh Islam Indonesia di masa lampau seperti KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asya’ari dan Cokroaminoto sebagai rujukan berpikirnya. Mereka lebih merasa “nyaman”, “benar” dan “afdhol” merujuk pada tokoh-tokoh Islam Timur Tengah seperti Sayyid Quthb, Hasan al-Banna dan Yusuf Qardhawi. Secara kebetulan para tokoh tersebut adalah para pioner Ikhwanul Muslimin, sebuah organisasi Islam berbasis di Mesir yang mencita-citakan terbentuknya sebuah imperium Islam di bumi, sebuah Daulah Islamiyah. Ikhwanul Muslimin –dengan berbagai organisasi variannya seperti Jamaah Islamiyah (JI) dan Hizbut Tahrir (HT)- memang mencita-citakan sebuah Daulah Islamiyah, dengan slogan “Allah Ghayatuna, Rasulullah Qudwatuna, Qur’an Dusturuna, Jihad Sabiluna, Syahid Asma’amanina”. Dalam doktrin Ikhwanul Muslimin, Daulah Islamiyah wajib didirikan hingga “Tidak ada lagi fitnah (terhadap Islam) di muka bumi”. Cita-cita Daulah Islamiyah dalam pola pikir generasi muda muslim baru tersebut jelas merupakan suatu doktrin yang tidak pernah diajarkan oleh para orang tua kita di Indonesia, tidak diajarkan oleh KH Hasyim Asy’ari, tidak juga oleh KH Ahmad Dahlan dan tidak juga oleh Cokroaminoto. Generasi muda muslim baru tersebut telah tercerabut (dan mencerabutkan dirinya) dari akar sosial-kultural keislaman Indonesia yang tidak mencita-citakan Daulah Islamiyah. Dua organisasi Islam terbesar dan tertua di Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sejak awal kelahirannya tidak pernah mempunyai mimpi “Daulah Islamiyah”.
Lalu, dari mana anak-anak muda tersebut sampai “bermimpi” dan “mengigau” tentang Daulah Islamiyah? Itulah efek globalisasi. Dunia bagaikan “Global Village” yang menyatu dan tanpa batas. Pemikiran, ideologi dan doktrin Daulah Islamiyah sampai dan melekat di otak anak-anak muda melalui media massa. Doktrin tersebut juga menyebar secara intensif pada periode 1990-an –dimana Orde Baru mencapai puncak kejayaannya- melalui pengajian-pengajian kecil dengan sistem sel di kampus-kampus dan sekolah-sekolah umum yang telah didepolitisasi oleh Orde Baru dari “politik aliran” sehingga ormas pelajar Islam seperti Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) tidak diizinkan berkiprah. Tidak heran, bila generasi muda muslim baru yang sekolah dan kuliah di sekolah dan kampus negeri asing dengan pemikiran toleransi keagamaan dan kebangsaan ala NU dan Muhammadiyah. Mereka lebih akrab dengan doktrin Daulah Islamiyah ala Ikhwanul Muslimin.
Di masa reformasi, doktrin Daulah Islamiyah bahkan mendapatkan tempatnya di panggung politik. Generasi muda muslim baru tersebut mendirikan sebuah partai politik yang berlabel “partai dakwah”. Partai tersebut pun mampu meraih suara signifikan pada Pemilu 2004 dan bahkan berhasil mendominasi perolehan suara di ibukota Jakarta. Di level Civil Society, mereka mengibarkan bendera Hizbut Tahrir, sebuah organisasi Islam varian Ikhwanul Muslimin. Bila Ikhwanul Muslimin memperbolehkan sistem demokrasi sebagai sarana merebut kekuasaan dan menegakkan Daulah Islamiyah, maka Hizbut Tahrir sama sekali menolak sistem demokrasi. Hizbut Tahrir memilih cara-cara propaganda ekstra parlementer untuk mengkampanyekan Daulah Islamiyah.
Walhasil, kaum muda di sekolah dan kampus umum lebih akrab dengan pemikiran Hasan Al Banna dan Sayyid Quthb daripada keteladanan KH Ahmad Dahlan maupun semangat kebangsaan KH Hasyim Asy’ari. Seperti anak muda gaul yang lebih mengidolakan artis asing seperti Britney Spears dan Brad Pitt, maka generasi muda muslim baru tersebut juga lebih terpesona dengan doktrin Daulah Islamiyah ala Sayyid Quthb dan Hasan Al Banna daripada wacana “sekularisasi” versi Nurcholish Madjid maupun “pribumisasi Islam” Abdurrahman Wahid. Dalam pandangan generasi muda muslim baru tersebut, Cak Nur dan Gus Dur adalah “agen-agen zionis dan salibis” yang “tidak akan rela sampai kaum muslimin mengikuti jalan mereka (zionis dan salibis)”. Ditemukannya buku-buku karangan Hasan Al Banna dan Sayyid Quthb ketika polisi menggeledah rumah para tersangka teroris yang terkait jaringan Dr. Azahari – Noordin Top bukanlah sebuah kebetulan. Sedikit banyak doktrin Daulah Islamiyah yang diuraikan dalam buku-buku karangan Hasan Al Banna dan Sayyid Quthb telah menginspirasikan anak-anak muda tersebut sehingga rela menjadi pembom bunuh diri yang membunuh warga sipil yang tidak bersalah.
Sudah saatnya para kyai, alim-ulama, cendekiawan muslim dan intelektual muda muslim kembali ke tengah-tengah umat! Wahai para kyai, berhentilah mengurus pecah belah partai politik. Basahilah kembali bumi Indonesia dengan siraman taushiyah, petuah dan keteladananmu. Wahai para cendekiawan dan intelektual muda muslim, hentikanlah debat kusirmu di jurnal-jurnal yang jarang dibaca dan dimengerti umat. Cerdaskanlah teman muda sebayamu dengan dialog dan argumen yang sejuk dan dipahami umat. Sudah saatnya negara mengkoreksi total kebijakan Orde Baru yang “membersihkan” sekolah-sekolah dan kampus-kampus dari dua arus utama Islam Indonesia, NU dan Muhammadiyah. Biarkanlah anak-anak muda di sekolah-sekolah dan kampus-kampus “kembali ke pangkuan orang tua mereka” sehingga semangat keberislaman dapat digelorakan dalam satu tarikan nafas dengan semangat kebangsaan. Last but not least, sudah saatnya para anak muda yang mengklaim dirinya sebagai generasi muda muslim baru kembali berpijak di bumi nusantara. Galilah kembali pemikiran Islam otentik yang moderat dan toleran dari para kyai dan alim-ulama, orang tua kita sendiri! Wallahu A’lam.

Penulis adalah alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Universitas Indonesia